Kuala Kapuas – Merespons cepat terdeteksinya titik hotspot melalui aplikasi SIPONGI, Polres Kapuas bersama TNI dan KPHP Provinsi Kalimantan Tengah langsung melakukan pengecekan lapangan sekaligus penanganan di Desa Timpah, Kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 11.00 WIB tersebut dipimpin Kabagops Polres Kapuas Kompol Ghanda Novidiningrat Gunawan, S.I.K., M.H. bersama Kapolsek Timpah dan melibatkan personel Bagops, Polsek Timpah, TNI serta KPHP Provinsi Kalimantan Tengah.
Berdasarkan hasil pemantauan SIPONGI, titik hotspot dengan tingkat kepercayaan High terdeteksi di wilayah Desa Timpah. Tim kemudian bergerak ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya sekaligus mencegah potensi berkembangnya titik panas menjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Setelah dilakukan pengecekan, petugas menemukan areal bekas terbakar yang masih mengeluarkan asap. Kondisi tersebut langsung ditindaklanjuti dengan pembasahan dan pendinginan untuk mencegah munculnya kembali api.
Dalam penanganan tersebut, tim menggunakan sejumlah sarana, di antaranya satu unit R6, empat unit kendaraan R4, dua mesin Alkon, lima selang, satu unit drone serta cairan X-Fire.
Petugas tidak hanya melakukan pembasahan pada area yang masih mengeluarkan asap, tetapi juga menyisir dan memantau lingkungan sekitar untuk memastikan tidak terdapat sumber panas maupun titik api lain yang berpotensi menyebabkan kebakaran meluas.
Kabagops Polres Kapuas Kompol Ghanda Novidiningrat Gunawan menyampaikan bahwa langkah cepat tersebut merupakan tindak lanjut arahan Kapolres Kapuas AKBP Rina Perwitasari, S.H., S.I.K., M.H., CPHR., CBA., untuk memastikan setiap informasi hotspot segera diverifikasi dan ditangani di lapangan.
“Kapolres Kapuas menekankan agar setiap informasi hotspot segera ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung. Jangan sampai titik panas yang masih bisa kita tangani berkembang menjadi Karhutla yang lebih luas. Karena itu, setelah ditemukan adanya asap di lahan bekas terbakar, kami langsung melakukan pembasahan dan pendinginan,” ujar Kabagops.
Ia menambahkan, kondisi di lapangan menjadi tantangan tersendiri karena sumber air sudah kering dan akses menuju lokasi cukup jauh serta semakin sulit ketika memasuki bagian dalam areal. Keterbatasan mobil tangki air juga menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman.
“Kondisi lapangan cukup menantang, terutama karena sumber air terbatas dan akses menuju lokasi sulit. Namun, personel bersama unsur terkait tetap berupaya melakukan penanganan semaksimal mungkin agar api tidak kembali menyala dan meluas,” jelasnya.
Dari hasil kegiatan, titik hotspot yang terdeteksi berada pada areal bekas terbakar yang masih mengeluarkan asap telah dilakukan pembasahan dan pendinginan. Selanjutnya, lokasi terus dipantau sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan munculnya kembali titik api.
Polres Kapuas juga terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan bersama TNI, KPHP, pemerintah daerah, serta unsur terkait lainnya untuk merespons setiap informasi hotspot secara cepat.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Apabila menemukan adanya asap atau titik api, segera laporkan kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin. Kecepatan informasi dan respons di lapangan sangat penting dalam mencegah Karhutla meluas,” pungkas Kabagops.







