KETIKA SERAGAM COKELAT MENGETUK PINTU HARAPAN DI KUALA PEMBUANG I

oleh -186 Dilihat
banner 468x60

Polres Seruyan – Matahari sore mulai condong ke barat ketika dua kendaraan dinas Polres Seruyan perlahan memasuki jalan kecil di Kelurahan Kuala Pembuang I. Bukan untuk mengejar pelaku kejahatan atau menggelar razia, melainkan membawa misi yang tak kalah mulia: menyuluh kebahagiaan di tengah keterbatasan warga.

Di balik kemudi, Kompol Muhamad Husin, Kabag Perencanaan Polres Seruyan, mengatur napas. Sore itu, Minggu (1/3/2026), ia memimpin langsung tim kecil yang akan mendatangi rumah-rumah warga kurang mampu. Bukan sekadar bagi-bagi sembako, tetapi sebuah upaya merajut kembali benang-benang kepercayaan antara institusi Polri dan masyarakat.

banner 336x280

Ketukan Pintu yang Berbeda

Pukul 16.00 WIB, tim tiba di rumah pertama. Sebuah rumah panggung sederhana dengan cat kusam termakan usia. Kompol Muhamad Husin mengetuk pintu kayu itu perlahan. “Assalamu’alaikum, Bu. Ada rombongan dari Polres Seruyan,” sapanya lembut.

Pintu terbuka. Sosok lansia dengan rambut memutih dan langkah gontai muncul di ambang pintu. Ia menatap heran rombongan berseragam cokelat yang memenuhi halaman rumahnya. Matanya membelalak, setengah tak percaya.

“Ini Bapak-bapak polisi?” tanyanya dengan suara lirih, masih mencerna apa yang terjadi.

“Iya, Bu. Kami dari Polres Seruyan, mau bersilaturahmi sekaligus berbagi sedikit bantuan untuk Ibu di bulan Ramadhan ini,” jawab Kompol Muhamad Husin sambil menyerahkan paket sembako.

Tangan keriput itu menerima bantuan dengan gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. “Saya tidak menyangka… polisi mau datang ke rumah saya. Sepanjang hidup, baru kali ini ada polisi yang mengetuk pintu rumah saya untuk memberi, bukan untuk meminta,” ucapnya terbata-bata.

Keheningan sejenak menyelimuti ruang tamu sederhana itu. Sebuah momen yang menyadarkan semua yang hadir bahwa kadang, kebahagiaan sederhana justru hadir dari tempat yang paling tak terduga.

Cerita di Balik Senyum

Di persinggahan berikutnya, seorang kakek tua yang hidup sebatang kara menyambut rombongan dengan senyum tak percaya. Ia duduk di teras rumahnya yang sederhana, ditemani seekor kucing hitam yang setia menemaninya. Tangan kasarnya menggenggam erat paket sembako yang baru saja diterima, seolah tak ingin melepaskan kebahagiaan yang tiba-tiba menghampirinya.

“Saya kira polisi itu galak-galak, ternyata ramah ya,” celetuknya sambil tertawa kecil. Tawa yang mencairkan suasana dan menghapus sekat-sekat yang selama ini mungkin terbangun.

Di rumah lain, seorang nenek yang harus menghidupi beberapa cucu setelah ditinggal anaknya, tak kuasa menahan haru. Ia memeluk erat paket sembako itu sambil terus mengucap syukur. “Alhamdulillah, terima kasih Bapak-bapak. Ini sangat berarti buat kami,” ucapnya berulang kali.

Filosofi di Balik Seragam

Di sela-sela kunjungan, Kompol Muhamad Husin berbagi refleksi. “Seragam ini kadang membuat orang takut atau segan mendekat. Makanya kami ingin tunjukkan bahwa di balik seragam cokelat ini, ada hati yang juga ingin berbagi, ingin peduli. Ramadhan mengajarkan kami untuk tidak hanya jadi penegak hukum, tapi juga penebar kebaikan.”

AKP Eko Muji Hartono, Kasat Binmas yang turut dalam rombongan, menambahkan bahwa kunjungan seperti ini adalah bagian dari tugas kemanusiaan yang tak kalah penting dari patroli atau pengamanan. “Ketika masyarakat merasa polisi adalah sahabat, maka keamanan akan tercipta dengan sendirinya. Karena keamanan sejati lahir dari kedekatan hati, bukan dari jarak dan ketakutan,” tuturnya.

Harum Berkah di Senja Hari

Matahari semakin condong ke barat saat rombongan meninggalkan rumah-rumah yang telah dikunjungi. Lima paket sembako telah berpindah tangan, tapi yang lebih berharga adalah lima pintu hati yang terbuka lebar. Di setiap rumah yang dikunjungi, pesan-pesan doa mengiringi kepergian mereka.

“Ibu doakan Bapak-bapak polisi selalu sehat, selalu dalam lindungan Allah, dan makin sayang sama rakyat kecil seperti kami,” pesan seorang nenek saat pamit, sambil menggenggam erat tangan Kompol Muhamad Husin.

Di dalam mobil dinas yang melaju pelan meninggalkan lorong-lorong sempit Kelurahan Kuala Pembuang I, suasana hening. Masing-masing larut dalam renungan. Bahwa kadang, untuk menciptakan keamanan, yang dibutuhkan bukanlah peluru atau pentungan, melainkan hati yang tulus mengetuk pintu-pintu harapan.

Bahwa di bulan suci ini, kebahagiaan tak selalu harus hadir dalam kemasan mewah. Kadang, ia datang dari ketukan pintu yang ramah, sapaan yang hangat, dan kepedulian yang tulus dari para pelayan masyarakat yang tak pernah lelah berbagi berkah.

HUMAS POLRES SERUYAN

“Polri Peduli: Dari Hati, untuk Hati, di Bulan yang Penuh Berkah”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.