Sasar Kelompok Pelajar, Rumkit Bhayangkara Gencarkan Sosisalisasi Pencegahan Stunting Sejak Dini

oleh -295 Dilihat
banner 468x60

PALANGKA RAYA – Stunting merupakan masalah gizi kronis yang sering terjadi pada anak-anak. Stunting merupakan proses kumulatif keterlambatan pertumbuhan pada anak yang umumnya terjadi sebelum usia tiga tahun, dan berlanjut hingga usia sekolah.

Selama ini, prevalensi dan kejadian stunting hanya menyoroti permasalahan anak balita, sedangkan pada kenyataannya masalah gizi pada anak usia sekolah banyak terjadi di negara berkembang dan negara transisi dengan lebih dari 20% termasuk Indonesia.

banner 336x280

Stunting bukan hanya menyebabkan hambatan pada pertumbuhan fisik anak, namun juga menghambat perkembangan kognitif yang dapat memengaruhi tingkat kecerdasan dan produktivitasnya di masa depan.

Upaya pencegahan dan penurunan stunting baik secara global maupun nasional, bukan tanpa alasan. Kondisi tersebut dilakukan karena masalah stunting sangat erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia dimasa yang akan datang.

Didasari oleh hal tersebut, Rumah Sakit (Rumkit) Bhayangkara Tingkat III Palangka Raya Polda Kalteng bersama Mahasiswa KKN-R Universitas Palangka Raya melakukan penyuluhan pencegahan stunting dengan sasaran para pelajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Rabu (24/7/2024) siang.

Pada kegiatan tersebut, penyampaian materi dilakukan tim pelaksana yaitu Dokter Umum dr. Nita Marta dan Ahli Gizi Bripda Adam Faripasha, S.Tr.Gz., dengan memberikan penyuluhan mengenai stunting, pengetahuan gizi stunting termasuk didalamnya pengetahuan mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Ahli Gizi Bripda Adam mengatakan, penyadaran siswa mengenai situasi stunting dan pentingnya pola hidup bersih dan sehat bertujuan untuk membuka wawasan siswa bahwa kasus stunting banyak terjadi dan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap anak-anak termasuk diri sendiri dalam jangka yang panjang.

“Banyak siswa yang masih belum peduli akan kebersihan diri sendiri dan lingkungan terutama perihal makanan yang dikonsumsi masih banyak yang tergolong tidak sehat”, ujarnya.

Sementara itu, dr. Nita Marta memberikan pemahaman mengenai tanda gejala, faktor resiko, dan upaya pencegahan stunting sejak diri sehingga siswa dapat berupaya melakukan pencegahan sedari awal.

“Rendahnya upaya PHBS dapat menjadi salah satu alasan tingginya stunting dan disebabkan salah satunya oleh pengetahuan calon orang tua yang kurang. Oleh karena itu, kegiatan penyuluhan stunting ini dilakukan dalam upaya meningkatkan pengetahuan siswa terutama, sebagai calon orang tua di masa mendatang”, tutupnya. (Har/sam)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.