PALANGKA RAYA – Teknik pembidaian merupakan satu dari sekian jenis penanganan pertama bagi korban cedera patah tulang, Pertolongan pertama untuk korban cedera patah tulang dengan Teknik pembidaian menjadi materi bahasan dalam pertemuan kegiatan program sharing session rutin Rumah Sakit (Rumkit) Bhayangkara Tingkat III Palangka Raya Polda Kalteng, Kamis (20/6/2024).
Kepala Urusan Pendidikan dan Penelitian (Kaurdiklit) Rumkit Bhayangkara Penda Tk I Rusmawarti, S.Sos mewakili Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Bhayangkara Kompol dr. Anton Sudarto mengatakan, Pertolongan pertama meliputi teknik pembidaian bagi korban patah tulang sangat penting, sebelum evakuasi korban dilakukan.
“Yang paling sering kita tangani adalah korban kecelakaan lalu lintas. Penanganan pertama memang kelihatan biasa saja, tapi cukup efektif mencegah dampak buruk yang diderita korban. Maka dari itu, peningkatakan kemampuan personel rutin dilakukan,” ujarnya.
Tim Kegawatdaruratan Rumkit Bhayangkara Palangka Raya yang disampaikan oleh Pengatur Pantar Yanuar, AMd.Kep., beserta anggota memberikan penyuluhan berkaitan pertolongan pertama tanggap darurat kebencanaan.
“Para peserta atau personel Rumkit Bhayangkara kita ajari jenis-jenis pertolongan pertama korban patah tulang,” ujarnya.
Menurut Pengatur Pantar, sepanjang pengalamannya bertugas sebagai tenaga medis, pertolongan pertama merupakan pengetahuan yang sangat penting.
Sebelum ditangani petugas kesehatan, pertolongan pertama dapat meminimalisir kerugian yang dialami korban. Dalam kasus patah tulang atau fraktur tulang, peserta dilatih teknik pembidaian untuk cedera fraktur tulang tangan dan kaki.
“Untuk cedera patah tulang, ada yang kita sebut sebagai teknik pembidaian. Gunanya untuk mencegah pergerakan atau pergeseran tulang dari anggota tubuh yang patah,” katanya.
Di hadapan peserta, Tim Kegawatdaruratan Rumkit Bhayangkara memperagakan tata cara dan teknik pembidaian.
Menurutnya, sebelum melakukan pembidaian, peserta perlu memastikan kondisi fisik korban, jenis luka dan menyiapkan bidai. Bidai sederhana dapat diperoleh dari sumber daya yang ada, seperti rotan, bambu, ranting kayu atau kulit pohon yang berbobot ringan.
Dua buah bidai yang telah disiapkan ditekatkan pada bagian tubuh korban yang patah dan diikat menggunakan 2 hingga 3 utas tali.
“Kondisi korban harus dipastikan lebih dulu. Kalau ada luka terbuka, dibersihkan dulu, setelah itu kita lakukan pembidaian menggunakan sumber daya yang tersedia,” tutup Pantar.(Har/Sam)







